Tidak ada sekolah yang benar-benar mengajarkan kita bagaimana caranya menjadi dewasa.
Tidak ada mata pelajaran tentang mengelola kecewa, menahan ego, atau tetap berjalan ketika hidup terasa tidak adil.
Di sekolah, kita diajarkan rumus, tanggal sejarah, dan teori.
Namun setelah lulus, hidup justru menguji hal-hal yang tidak pernah masuk kurikulum:
bagaimana menerima kegagalan tanpa menyalahkan siapa pun,
bagaimana bertanggung jawab atas pilihan sendiri,
dan bagaimana tetap waras ketika realita tidak sesuai harapan.
Menjadi dewasa bukan soal usia.
Ia tentang keputusan yang tetap diambil meski hati ragu,
tentang menepati janji meski tidak diawasi,
tentang memilih diam bukan karena kalah, tapi karena paham mana yang perlu diperjuangkan.
Tidak ada guru yang memberi nilai ketika kita memilih jujur saat berbohong lebih menguntungkan.
Tidak ada rapor saat kita berhasil menahan amarah demi menjaga keluarga.
Semua pelajaran itu sunyi—dan sering kali menyakitkan.
Kita belajar menjadi dewasa lewat kehilangan,
lewat tanggung jawab yang datang lebih cepat dari kesiapan,
lewat kenyataan bahwa dunia tidak selalu adil, dan tidak pernah berjanji untuk lembut.
Namun justru di situlah prosesnya.
Dewasa adalah tentang berdamai, bukan selalu menang.
Tentang konsisten, bukan sekadar terlihat benar.
Tentang tetap melangkah, meski tidak ada tepuk tangan.
Jika hari ini kamu merasa lelah, bingung, atau tertinggal,
ingat satu hal:
kamu sedang sekolah—di sekolah kehidupan.
Dan di sini, kelulusan tidak ditentukan oleh seberapa cepat,
melainkan oleh seberapa kuat kamu bertahan tanpa kehilangan nilai diri.
Tidak ada komentar: